Sabtu, 02 Maret 2013

Praktikum Kimpang BTM_yoechan


VI. PEMBAHASAN
Di Negara maju, suatu zat pewarna buatan harus melalui perlakuan pemberian asam sulfat atau asam nitrat yang seringkali terkontaminasi oleh arsen atau logam berat lain yang bersifat racun. Pada pembuatan zat pewarna organik sebelum mencapai produk akhir, harus melalui suatu senyawa dulu yang kadang-kadang berbahaya dan seringkali tertinggal dalam hal akhir, atau terbentuk senyawa-senyawa baru yang berbahaya (Cahyadi, 2006).
Namun sering sekali terjadi penyalahgunaan pemakaian pewarna untuk sembarang bahan pangan, misalnya zat pewarna tekstil dan kulit untuk mewarnai bahan pangan. Bahan tambahan pangan yang ditemukan adalah pewarna yang berbahaya terhadap kesehatan seperti Amarant, Auramin, Methanyl Yellow, dan Rhodamin B. Jenis-jenis makanan jajanan yang ditemukan mengandung bahan-bahan berbahaya ini antara lain sirup, saus, bakpau, kue basah, pisang goring, tahu, kerupuk, es cendol, mie dan manisan (Yuliarti, 2007).
Timbulnya penyalahgunaan bahan tersebut disebabkan karena ketidaktahuan masyarakat mengenai zat pewarna untuk pangan, dan juga disebabkan karena harga zat pewarna untuk industri lebih murah dibanding dengan harga zat pewarna untuk pangan (Seto, 2001).

Tabel 6.1. Hasil Pengamatan Bahan Tambahan Makanan
Kelompok
Pengamatan
Uji Pewarna Tekstil
Uji Boraks
Uji Formalin
9
Sampel
Krupuk Melarat Cipamokolan
Cimol Jatinangor
Tahu Pasir Jati
Hasil
+
-
+
10
Sampel
Tahu
Lontong Pangdam
Tahu Sukup
Hasil
+
-
+
11
Sampel
Kerupuk sosis
Cilok Padasuka
Nugget Padasuka
Hasil
+
-
+
12
Sampel
Snack Maba 2011
Ikan Pindang Cisaladah
Ikan Pindang Cisaladah
Hasil
+
-
+
13
Sampel
Kue Kacang hijau Cipamokolan
Bakso Pasar Kordon
Tahu Riung Bandung
Hasil
+
+
+ sedikit
14
Sampel
Kue lapis Jalan logam
Bakso Cuanki Cemara
Baksi Cuanki Cemara
Hasil
+
+
+
15
Sampel
Tahu BB
Bakso
Tahu BB
Hasil
+
-
+
16
Sampel
Manisan Mangga
Baso ikan + saus SD cibiru
Baso ikan + saus SD cibiru
Hasil
+
+ sedikit
+

Penentuan mutu dan bahan makanan pada umumnya sangat bergantung pada beberapa faktor diantaranya cita rasa, warna, tekstur, dan nilai gizinya; disamping itu ada faktor lain, misalnya sifat mikrobiologis. Tetapi sebelum ada faktor-faktor lain dipertimbangkan, secara visual faktor warna tampil lebih dahulu dan kadang-kadang sangat menentukan. Suatu bahan yang dinilai bergizi, enak, dan teksturnya sangat baik tidak akan dimakan apabila memiliki warna yang tidak sedap dipandang atau memberi kesan menyimpang dari warna yang seharusnnya. Selain sebagai faktor yang ikut menentukan mutu, warna juga dapat digunakan sebagai indikator kesegaran atau kematangan. Baik tidaknya cara pencampuran atau cara pengolahan ditandai dengan adanya warna yang seragam dan merata (Winarno,1995).
Di indonesia tata cara atau undang- undang zat pewarna makanan belum ada. Sehingga cenderung terjadi penyalahgunaan dalam pemakaian zat pewarna. Misalnya, sering digunakan zat pewarna tanpa mencantumkan label dan merek. Sirup dengan warna yang mencolok dan indah, dikhawatirkan menggunakan zat pewarna tekstil dan pewarna kulit. Bila itu terjadi, sangat membahayakan kesehatan pemakainya, karena zat pewarna tekstil mengandung residu logam berat yang dapat merusak organ hati dan ginjal. Oleh sebab itu, sedapat mungkin hindari mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung zat warna sintetik. Untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan akibat penggunaan zat warna alami misalnya daun suji (pewarna hijau) atau zat sintetik yang dibeli di apotek/di toko tertentu yang telah disahkan oleh Depkes. RI.
Ciri makanan yang mengandung Rhodamin B:
§  Warna kelihatan cerah (berwarna-warni), sehingga tampak menarik.
§  Ada sedikit rasa pahit (terutama pada sirop atau limun).
§  Muncul rasa gatal di tenggorokan setelah mengonsumsinya.
§  Baunya tidak alami sesuai makanannya
Secara garis besar pewarna dibedakan menjadi dua, yaitu pewarna alami dan sintetik. Pewarna alami yang dikenal di antaranya adalah daun suji (warna hijau), daun jambu/daun jati (warna merah), dan kunyit untuk pewarna kuning.
Kelemahan pewarna alami ini adalah warnanya yang tidak homogen dan ketersediaannya yang terbatas, sedangkan kelebihannya adalah pewarna ini aman untuk dikonsumsi.
Jenis yang lain adalah pewarna sintetik. Pewarna jenis ini mempunyai kelebihan, yaitu warnanya homogen dan penggunaannya sangat efisien karena hanya memerlukan jumlah yang sangat sedikit. Akan tetapi, kekurangannya adalah jika pada saat proses terkontaminasi logam berat, pewarna jenis ini akan berbahaya.
Selain itu, khusus untuk makanan dikenal pewarna khusus makanan (food grade). Padahal, di Indonesia, terutama industri kecil dan industri rumah tangga, makanan masih sangat banyak menggunakan pewarna non makanan (pewarna untuk pembuatan cat dan tekstil).
Untuk mengetahui kandungan pewarna makanan baik atau tidak dapat dilakukan pemeriksaan dengan metode Colorimetri dengan menggunakan Indikator kertas Lakmus. Bahan yang digunakan yaitu bulu domba, karena bulu domba sangat mudah menyerap kandungan zat pewarna saat pendidihan. Dari pemeriksaan diperoleh data bahwa pewarna yang diperiksa mengandung pewarna alami.
Praktikum kali ini mengidentifikasi makanan yang mengandung bahan pewarna tekstil dengan pengujian kertas saring. Sampel yang digunakan dalam pengujian ini diantaranya kerupuk melarat cipamokolan, tahu, kerupuk sosis, snack maba 2011, kue kacang hijau cipamokolan, kue lapis jalan logam, tahu BB, dan manisan mangga. Dari sampel tersebut ditimbang 5 gram dan dihaluskan kemudian diambil filtratnya. Ambil pipet tetes kemudian teteskan filtrat dalam kertas saring kemudian masukan ke dalam tabung reaksi air destilasi, dan amati. Bila makanan tersebut mengandung pewarna tekstl maka warna tersebut tidak akan bergerak ke atas. Semua sampel diatas menunjukkan bahwa makanan tersebut mengandung pewarna tekstil.
Uji Boraks
Boraks merupakan senyawa kimia dengan rumus natrium tetraborat (NaB4O7), berbentuk kristal lunak dengan pH = 9,5. Boraks merupakan senyawa kimia antara natrium hidroksida serta asam borat. Dalam industri, boraks menjadi bahan solder, bahan pembersih, pengawet kayu, antiseptic kayu dan pengontrol kecoa.
Secara bahasa jawa, boraks dikenal sebagai bleng. Bleng adalah campuran garam mineral konsentrasi tinggi yang dipakai dalam pembuatan makanan tradisional seperti karak dan gendar. Sinonimnya yaitu natrium biborat, natrium piroborat, natrium tetraborat.
Struktur molekul boraks adalah dari menyambungkan BO2(OH) BO3(OH) dan segi tiga bidang empat yang terikat ke rantai dari bidang delapan air dan sodium. Boraks memiliki beberapa karakteristik:
o   Warna adalah putih jernih
o   Kilau seperti kaca
o   Kristal transparan (tembus cahaya)
o   System hablur adalah monoklin
o   Perpecahan sempurna di satu arah
o   Warna lapisan putih
o   Mineral yang sejenis adalah kalsit, halit, hanksite, colemanite, ulexite dan garam asam borat.
Manfaat boraks 
Boraks biasanya digunakan oleh industri farmasi sebagai ramuan obat misalnya salep, bedak, larutan kompres, obat oles mulut, dan obat pencuci mata. Boraks juga digunakan sebagai bahan solder, bahan pembersih, pengawet kayu dan antiseptic kayu.
Boraks ini banyak disalahgunakan oleh manusia sehingga menimbulkan bahaya. Boraks banyak disalahgunakan untuk pembuatan mie basah, lontong, bakso, kerupuk, dan gendar. Boraks apabila terdapat pada makanan maka dalam jangka waktu lama akan terjadi penumpukan pada otak, hati, lemak dan ginjal. Pemakaian dalam jumlah banyak dapat menyebabkan demam, depresi, kerusakan ginjal, nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan, kebodohan, kebingungan, radang kulit, anemia, kejang, pingsan, koma bahkan kematian. 
Bahaya boraks dapat diserap melalui usus, kulit yang rusak dan selaput lender. Dapat memberikan efek toksik. Pengaruhnya terhadap kesehatan:
a.    Tanda dan gejala akut
Munah, diare, merah di lender, konvulsi, dan dispersi SSP (Susunan Syaraf Pusat)
b.    Tanda dan gejala kronis
Nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan, gangguan SSP, bingung, dan bodoh, anemia, rambut rontok dan kanker.
Ciri-ciri makanan mengandung boraks:
Bakso :
Ø  Lebih kenyal dibanding bakso tanpa boraks
Ø  Bila digigit akan kembali ke bentuk semula
Ø  Tahan lama dan awet beberapa hari.
Ø  Warnanya tampak lebih putih. Bakso yang aman berwarna abu-abu segar merata di semua bagian baik di pinggir maupun di tengah.
Ø  Bau terasa tidak alami ada bau lain yang muncul.
Ø  Bila dilemparkan ke lantai akan memantul seperti bola bengkel.
Gula merah:
Ø  Sangat keras dan susah dibelah.
Ø  Terlihat butiran mengkilap di bagian dalam.
Lontong:
Ø  Teksturnya sangat kenyal.
Ø  Dapat memberikan rasa getir.
Kerupuk: 
Ø  Teksturnya sangat renyah.
Ø  Dapat memberikan rasa getir.
Boraks maupun bleng tidak aman untuk dikonsumsi sebagai makanan, tetapi ironisnya penggunaan boraks sebagai komponen dalam makanan sudah meluas di Indonesia. Mengkonsumsi makanan yang mengandung boraks memang tidak serta berakibat buruk terhadap kesehatan tetapi boraks akan menumpuk sedikit demi sedikit karena diserap dalam tubuh konsumen secara kumulatif. Seringnya mengonsumsi makanan berboraks akan menyebabkan gangguan otak, hati, lemak, dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan, hingga kematian. Bleng atau boraks biasanya dipakai dalam pembuatan makanan berikut ini: karak/lempeng (kerupuk beras), sebagai komponen pembantu pembuatan gendar (adonan calon kerupuk) mi, lontong, sebagai pengeras. ketupat, sebagai pengeras, bakso, sebagai pengawet dan pengeras serta kecap, sebagai pengawet. 
Uji nyala adalah salah satu metode pengujian untuk mengetahui apakah dalam makanan terdapat boraks atau tidak. Disebut uji nyala karena sampel yang digunakan dibakar uapnya, kemudian warna nyala dibandingkan dengan warna nyala boraks asli. Tentu sebelumnya telah diketahui bahwa serbuk boraks murni dibakar menghasilkan nyala api berwarna hijau. Jika sampel yang dibakan menghsilkan warna nyala hijau maka sampel dinyatakan positif mengandung boraks.
Praktikum kali ini pula mengidentifikasi makanan yang mengandung boraks. Sampel yang digunakan dalam pengujian ini diantaranya cimol jatinangor, lontong pangdam, cilok padasuka, ikan pindang cisaladah, bakso pasar kordon, bakso cuanki cemara, bakso, baso ikan dan saus SD Cibiru. Sampel seberat 3 gram dimasukkan dalam cawan porselen diabukan selama 2 jam yaitu dipijarkan dalam tanur selama 2 jam dalam suhu 600oC, setelah itu didinginkan kemudian diteteskan 8 tetes larutan H2SO4 pekat dan 1 mL metanol absolut, kemudian dibakar, dan nyala api yang timbul akan berwarna hijau jika mengandung boraks. Dari sampel diatas yang positif mengandung boraks didalamnya adalah sampel bakso pasar kordon, bakso cuanki cemara, dan baso ikan dan saus SD Cibiru dengan kadar boraks sedikit karena nyala api hijau yang kecil. Sedangkan sampel yang lainnya negatif mengandung senyawaw boraks.




Uji Formalin
Formalin adalah Formaldehid atau Metanal dengan rumus umum HCHO. Formalin merupakan larutan yang tak berwarna dan berbau menyengat, pada suhu kamar berupa gas yang bisa larut dalam alcohol, aseton maupun air.
Dalam industri kimia sangat penting sebagai :
·         Desinfektan
·         Fungisida
·         Bakterisida
·         Bahan dasar pembuat resin
·         Pengawet Mayat Manusia/Binatang
Formalin adalah senyawa toksin dan beracun pada manusia yang dapat menyebabkan :
·         Sakit perut
·         Iritasi pada kulit
·         Kekurangan protein (proteinuria)
·         Kelebihan asam (asidosis)
·         Sakit kepala hingga kematian
·         Bersifat karsinogen / penyebab kanker.
Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Di dalam formalin terkandung sekitar 37 persen formaldehid dalam air. Biasanya ditambahkan metanol hingga 15 persen sebagai pengawet. Formalin dikenal sebagai bahan pembunuh hama (desinfektan) dan banyak digunakan dalam industri.
Penggunaan formalin
·         Pembunuh kuman sehingga dimanfaatkan untuk pembersih : lantai, kapal, gudang dan pakaian.
·         Pembasmi lalat dan berbagai serangga lain.
·         Bahan pembuatan sutra buatan, zat pewarna, cermin kaca dan bahan peledak.
·         Dalam dunia fotografi biasaya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin dan kertas.
·         Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea.
·         Bahan pembuatan produk parfum.
·         Bahan pengawet produk kosmetika dan pengeras kuku.
·         Pencegah korosi untuk sumur minyak.
·         Bahan untuk insulasi busa.
·         Bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood).
·         Dalam konsentrasi yag sangat kecil (<1 persen) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen seperti pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, lilin dan karpet.
Bahaya utama formalin sangat berbahaya jika terhirup, mengenai kulit dan tertelan. Akibat yang ditimbulkan dapat berupa : luka bakar pada kulit, iritasi pada saluran pernafasan, reaksi alergi dan bahaya kanker pada manusia.
Menurut Winarno dan Rahayu (1994), pemakaian formalin pada makanan dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia. Gejala yang biasa timbut antara lain sukar menelan, sakit perut akut disertai muntah-muntah, mencret berdarah, timbulnya depresi susunan saraf, atau gangguan peredaran darah. Formalin bila menguap di udara, berupa gas yang tidak berwarna, dengan bau yang tajam menyesakkan, sehingga merangsang hidung, tenggorokan, dan mata.
Konsumsi formalin pada dosis sangat tinggi dapat mengakibatkan konvulsi (kejang-kejang), haematuri (kencing darah), dan haimatomesis (muntah darah) yang berakhir dengan kematian Injeksi formalin dengan dosis 100 gram dapat mengakibatkan kematian dalam waktu 3 jam.
Boraks juga dapat menimbulkan efek racun pada manusia, tetapi mekanisme toksisitasnya berbeda dengan formalin. Toksisitas boraks yang terkandung di dalam makanan tidak langsung dirasakan oleh konsumen. Boraks yang terdapat dalam makanan akan diserap oleh tubuh dan disimpan secara kumulatif dalam hati, otak, atau testis (buah zakar), sehingga dosis boraks dalam tubuh menjadi tinggi (Winarno dan Rahayu, 1994).
Praktikum kali ini pula mengidentifikasi makanan yang mengandung formalin. Sampel yang digunakan dalam pengujian ini diantaranya tahu pasir jati, tahu sukup, nugget padasuka, ikan pindang cisaladah, tahu riung bandung, bakso cuanki cemara, tahu BB, baso ikan dan saus SD Cibiru. Tiap sampel diambil 5 gram untuk dihaluskan menggunakan mortar dan tambahkan 5 ml akuades, kemudian saring masuk ke dalam tabung reaksi. Tabung reaksi ditambahkan 3 tetes KMnO4 0,02M. Kemudian amati yang terjadi bila makanan tersebut mengandung formalin ditunjukkan oleh hilangnya warna pink dari larutan KMnO4. Dari hasil pengamatan didapatkan semua sampel makanan mengandung formalin. Pada sampel tahu riung bandung didapati sedikit kandungan formalinnya.
Pada dosis cukup tinggi, boraks dalam tubuh akan menyebabkan timbulnya gejala pusing-pusing, muntah, mencret, dan kram perut. Bagi anak kecil dan bayi, bila dosis dalam tubuhnya mencapai 5 gram atau lebih, akan menyebabkan kematian. Pada orang dewasa, kematian akan terjadi jika dosisnya telah mencapai 10 - 20 g atau lebih.
Sebuah kit tester formalin yang diberi nama  formalin main reagen (FMR). FMR mengandung enam senyawa kimia. Salah satu di antaranya adalah senyawa fuchsin yang berfungsi mengetahui persentase kadar formalin. Larutan kimia ini bisa dengan cepat mendeteksi kadar zat pengawet mayat itu dalam makanan melalui perubahan warna. Cara untuk mengetahuinya  yaitu dengan mengocok makanan yang sudah dipotong kecil-kecil dan dicampur FMR selama tiga menit. Bila warna larutan berubah menjadi warna merah atau ungu maka makanan/minuman tersebut mengandung formalin. (Anonim4. 2006)
Ciri makanan berformalin:
Mi basah:
·      Bau sedikit menyengat.
·      Awet, tahan dua hari dalam suhu kamar (25oC). Pada suhu 10oC atau dalam lemari es bisa tahan lebih 15 hari.
·      Mi tampak mengkilat (seperti berminyak), liat (tidak mudah putus), dan tidak lengket.
Tahu:
·      Bentuknya sangat bagus.
·      Kenyal
·      Tidak mudah hancur dan awet (sampai tiga hari pada suhu kamar 25oC). Pada suhu lemari es 10oC tahan lebih dari 15 hari.
·      Bau agak menyengat.
·      Aroma kedelai sudah tak nyata lagi.
Ikan:
·      Warna putih bersih.
·      Kenyal.
·      Insangnya berwarna merah tua dan bukan merah segar.
·      Awet (pada suhu kamar) sampai beberapa hari dan tidak mudah busuk.
·      Tidak terasa bau amis ikan, melainkan ada bau menyengat
Bakso:
·      Kenyal.
·      Awet, setidaknya pada suhu kamar bisa tahan sampai lima hari.
Ikan asin:
·      Ikan berwarna bersih cerah.
·      Tidak berbau khas ikan.
·      Awet sampai lebih dari 1 bulan pada suhu kamar (25oC).
·      Liat (tidak mudah hancur).
Ayam potong:
·      Berwarna putih bersih.
·      Tidak mudah busuk atau awet dalam beberapa hari.













VII. KESIMPULAN
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan maka dapat ditarik beberapa kesimpulan diantaranya adalah :
1.    Bahan tambahan pangan yang ditemukan adalah pewarna yang berbahaya terhadap kesehatan seperti Amarant, Auramin, Methanyl Yellow, dan Rhodamin B.
2.    Penyalahgunaan bahan tersebut disebabkan karena ketidaktahuan masyarakat mengenai zat pewarna untuk pangan, dan juga disebabkan karena harga zat pewarna untuk industri lebih murah dibanding dengan harga zat pewarna untuk pangan.
3.    Pewarna alami yang dikenal di antaranya adalah daun suji (warna hijau), daun jambu/daun jati (warna merah), dan kunyit untuk pewarna kuning.
4.    Kelemahan pewarna alami ini adalah warnanya yang tidak homogen dan ketersediaannya yang terbatas, sedangkan kelebihannya adalah pewarna ini aman untuk dikonsumsi.
5.    Kelebihan dari pewarna sintetik, yaitu warnanya homogen dan penggunaannya sangat efisien karena hanya memerlukan jumlah yang sangat sedikit. Akan tetapi, kekurangannya adalah jika pada saat proses terkontaminasi logam berat, pewarna jenis ini akan berbahaya.
6.    Boraks banyak disalahgunakan untuk pembuatan mie basah, lontong, bakso, kerupuk, dan gendar. Boraks apabila terdapat pada makanan maka dalam jangka waktu lama akan terjadi penumpukan pada otak, hati, lemak dan ginjal.
7.    Uji nyala adalah salah satu metode pengujian untuk mengetahui apakah dalam makanan terdapat boraks atau tidak.
8.    Formalin merupakan larutan yang tak berwarna dan berbau menyengat, pada suhu kamar berupa gas yang bisa larut dalam alcohol, aseton maupun air.
9.    Formalin bila menguap di udara, berupa gas yang tidak berwarna, dengan bau yang tajam menyesakkan, sehingga merangsang hidung, tenggorokan, dan mata.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim1. 2008. Available at : http://yellashakti.wordpress.com/2008/12/17/uji-nyala-sampel-boraks/ (diakses pada tanggal 29 November 2011)

Anonim2. 2009. Uji Formalin Sederhana. Available at : http://belajarjadiguru.blogspot.com/2008/11/uji-formalin-sederhana.html (diakses pada tanggal 29 November 2011)

Anonim3. 2009. Formalin. Available at : http://villany.blogsome.com/2006/01/25/formalin/ (diakses pada tanggal 29 November 2011)

Anonim4. 2006. FMR Penguji Kandungan Formalin yang Sederhana. Available at : http://berita.liputan6.com/read/118184/fmr-penguji-kandungan-formalin-yang-sederhana (diakses pada tanggal 31 November 2011)

Buckle, K.A, Edwards, R.A, Fleet, G.H. dan M. Wooton.1987. Ilmu Pangan.       Penerjemah Hari Purnomo dan Adiono. Penerbit Universitas Indonesia,        Jakarta.

Fennema OR. 1996. Food Chemistry. New York: Marcell Dekker Inc.

Winarno, F. G. 1991. Kimia  Pangan dan Gizi. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar