PEMBAHASAN
Umumnya kromatografi
digunakan untuk memisahkan komponen-komponen zat di dalam bahan yang terikat
satu sama lain. Analisis secara kromatografi terdiri dari dua sistem yaiu fase
tetap dan fase bergerak. Fase tetap berguna untuk mengikat komponen zat sedangkan
fase bergerak berguna untuk mengangkut komponen zat lain yang tidak terikat. Fase diam biasanya ialah padatan atau cairan sedangkan fasa bergerak
biasanya ialah cairan atau gas.
Pada tahun 1944, Consden, Gordon dan Martin
memperkenalkan teknik dengan menggunakan kertas penyaring sebagai penunjang
fase diam dan fase bergerak, berupa cairan yang terserap di antara struktur
pori kertas. Sampel sebanyak lebih kurang 1 µl disepositkan pada kertas saring
dan akan mengalir bersama sistem pelarut. Meskipun zat yang ter-recovery tidak
betul-betul murni, dia dimanfaatkan juga untuk uji kualitatif dan kuantitatif.
Keterbatasan metode ini adalah waktu yang relatif lama dan resolusinya yang
rendah (Khopkar, 2003)
Kromatografi kertas
adalah kromatografi atau pemisahan komponen-komponen zat dari campuran
berdasarkan distribusi partisi cair-cair. Pada analisis kromatografi kertas,
molekul komponen sebagian terdistribusi dalam zat cair yang polar yakni
air yang mudah teradsorpsi oleh kertas, dan sebagian komponen terdistribusi
dalam eluen yang akan mengalir naik ke ujung kertas bagian atas. Bagian-bagian
yang mudah terdistribusi dalam air akan cepat teradsorpsi oleh kertas dan
perjalanan / migrasinya lebih pendek. Sedangkan bagian-bagian yang tidak
terdistribusi dalam air, melainkan dalam eluen, maka akan terus mengalir
ke atas dan perjalannya lebih jauh. Noda-noda komponen yang terdapat
dalam senyawa yang dianalisa akan berderet ke atas pada satu garis atau
pita lurus. Eluen dibiarkan naik sampai mendekati pinggiran atas dari
kertas, kemudian diberi tanda dengan garis.
Bahan
adsorben sebagai fase diam dapat digunakan silika gel, alumina dan
serbuk selulosa. Partikel selika gel mengandung gugus hidroksil
pada permukaannya yang akan membentuk ikatan hidrogen
dengan molekul polar air. Fase diam untuk kromatografi
lapis tipis seringkali juga mengandung substansi yang mana dapat berpendar flour dalam sinar ultra violet. Fase gerak merupakan pelarut
atau campuran pelarut yang sesuai.
Hal yang pertama
dilakukan adalah menyiapkan kertas saring yang akan digunakan, yaitu dengan
memotong kertas yang ditentukan ukuranya. Setelah itu dibuat garis horizontal
pada bagian bawah dan atas kertas. Bagian bawah dibuat garis dengan ukuran 1,5
cm dari bagian paling bawah kertas sedangkan untuk bagian atas yaitu 0,5 cm.
Selanjtnya kertas saring tersebut diberi satu titik sampel dan satu titik
larutan standar yang jaraknya tidak terlalu berlebihan dengan menggunakan
pensil. Kenapa tidak digunakan tinta karena tinta merupakan sebuah media yang
sangat kompleks, berisikan pelarut, pigmen, celupan, resin dan pelumas,
sollubilizer (semacam senyawa yang membentuk ion-ion polimer polar dengan resin
tahan air), surfaktan (yaitu unsur basah yang menurunkan tekanan permukaan dari
sebuah cairan, memungkinkan penyebaran yang mudah, surfaktan juga menurunkan
tekanan antar permukaan antara dua cairan), materi-materi partikuler, pemijar,
dan material-material lainnya. Komponen-komponen tinta tersebut menjalankan
banyak fungsi: pembawa tinta, pewarna, dan dan bahan-bahan adiktif lainnya
digunakan untuk mengatur aliran, ketebalan dan rupa tinta ketika kering.
Kertas saring
ditotolkan sampel yang sebelumnya sudah dilarutkan dengan menggunakan larutan
Asam asestat 70% kemudian mikrobpipet dibakar sebentar dan ditarik agar lubang
pipet kecil dan totolan noda yang dihasilkan nampak jelas dilihat, kemudian
kertas saring yang telah diberikan
sampel dimasukkan ke dalam chamber yang berisi larutan pembawa dalam praktikum
ini adalah aquades. Larutan pembawa yang
digunakan harus memiliki kepolaran yang dekat dengan sampel yang diujikan.
Setelah pelarut merabat naik sampai jarak tertentu dari tempat bercak sampel kemudian
kertas dikeluarkan dari chamber dan diberikan tanda dengan pensil dan
dikeringkan dengan menggunakan hair dryer sampai kering. Apabila warna telah
terlihat maka bandingkan bercak sampel terhadap bercak zat-zat warna pembanding
yaitu aquades dan kemudian bandingkan dengan harga Rf. Nilai Rf untuk senyawa
murni dapat dibandingkan dengan nilai Rf dari senyawa standar. Nilai Rf dapat
didefinisikan sebagai jarak yang ditempuh oleh senyawa dari titik asal dibagi
dengan jarak yang ditempuh oleh pelarut dari titik asal. Oleh karena itu
bilangan Rf selalu lebih kecil dari 1,0.
Tabel
1. Hasil Pengamatan Kromatografi Kertas
|
Kelompok
|
Sampel
|
Jarak
perpindahan molekul zat
|
Jarak
perpindahan pelarut
|
Rf
|
Rata-Rata
|
|
1
|
Kunyit
|
0
|
5,3 cm
|
0
|
0
|
|
3
|
0
|
5,2 cm
|
0
|
||
|
5
|
0
|
5,2 cm
|
0
|
||
|
7
|
0
|
5,1 cm
|
0
|
||
|
9
|
0
|
5,1 cm
|
0
|
||
|
1
|
Rosella
|
0,5 cm
|
5,3 cm
|
0,094
|
0,4236
|
|
3
|
2 cm
|
5 cm
|
0,4
|
||
|
5
|
3,8 cm
|
5,1 cm
|
0,745
|
||
|
7
|
4,5 cm
|
5,3 cm
|
0,849
|
||
|
9
|
2,2 cm
|
5,1 cm
|
0,03
|
||
|
2
|
Pewarna
Tekstil
|
3,7 cm
|
5,1 cm
|
0,725
|
0,6012
|
|
4
|
3,8 cm
|
5,1 cm
|
0,745
|
||
|
6
|
2,2 cm
|
5,1 cm
|
0,431
|
||
|
8
|
3,2 cm
|
5,2 cm
|
0,615
|
||
|
10
|
2,5 cm
|
5,1 cm
|
0,49
|
||
|
2
|
Saus Tomat
|
0
|
5,1 cm
|
0
|
0
|
|
4
|
0
|
5,1 cm
|
0
|
||
|
6
|
0
|
5,1 cm
|
0
|
||
|
8
|
0
|
5,2 cm
|
0
|
||
|
10
|
0
|
5,1 cm
|
0
|
Nilai Rf =
Berdasarkan hasil
pengamatan, sampel kunyit senyawa utama yang terkandung dalam rimpang kunyit adalah
senyawa kurkuminoid yang memberi warna kuning pada kunyit. Kurkuminoid ini
(kebanyakan berupa kurkumin) menjadi pusat perhatian para peneliti yang mempelajari
keamanan, sifat antioksidan, antiinflamasi, efek pencegah kanker, ditambah
kemampuannya menurunkan resiko serangan jantung (Asghari G.A. Mostajeran and M.
Shebli, 2009). Setelah dilakukan uji kromatografi kertas didapatkan nilai Rf
rata-ratanya sebesar 0, hal ini dikarenakan zat warna kunyit tidak larut dalam
air sehingga jarak perpindahan molekul zat kurkumin tidak bergerak.
Sampel Rosella (Hibiscus
sabdariffa) mempunyai kelopak bunga yang berwarna merah. Kelopak bunga
(kaliks) inilah yang banyak digunakan sebagai bahan pembuatan minuman dan
makanan serta sumber pewarna alami. Kelopak bunga rosella selain mempunyai
warna yang menarik juga mempunyai rasa yang sangat asam. Antosianin merupakan
pigmen alami yang memberi warna merah pada seduhan kelopak bunga rosella dan
berkhasiat sebagai antioksidan. Setelah
dilakukan uji kromatografi kertas didapatkan nilai Rf rata-ratanya sebesar
0,4236, hal ini dikarenakan zat warna rosella larut dalam air sehingga jarak
perpindahan molekul zat antosianin bergerak.
Saos tomat merupakan produk berbentuk pasta dengan
aroma khas tomat. Tomat mengandung likopen. Selain memberikan warna merah pada buah
tomat, likopen terbukti efektif sebagai zat antioksidan. Likopen juga dapat
menurunkan risiko terkena kanker, terutama kanker prostat, lambung, tenggorokan
dan usus besar. Kandungan asam klorogenat dan asam p-kumarat di dalam tomat
mampu melemahkan zat nitrosamin penyebab kanker. Saos tomat biasa ditambahkan sebagai bahan penyedap dan
penambah rasa pada makanan. Sampel saus tomat memiliki nilai Rf sebesar 0, karena
zat warna saus tomat tidak larut dalam air.
Pewarna tekstil berwarna biru yaitu Brilliant Blue FCF (biru). Bahan pewarna sintetis yang boleh digunakan untuk makanan (food grade) pun harus dibatasi jumlahnya. Karena
pada dasarnya, setiap benda sintetis yang masuk ke dalam tubuh kita akan
menimbulkan efek. Sampel pewarna tekstil ini
berwarna biru, dapat dilihat bahwa nilai Rf nya paling besar dibandingkan nilai
Rf sampel yang lainnya yaitu sebesar 0,6012.
Ada beberapa faktor yang menentukan
harga Rf yaitu:
1. Pelarut,
disebabkan pentingnya koefisien partisi, maka perubahan-perubahan yang sangat
kecil dalam komposisi pelarut dapat menyebabkan perubahan-perubahan harga Rf.
2. Suhu,
perubahan dalam suhu merubah koefisien partisi dan juga kecepatan aliran.
3. Ukuran
dari bejana, volume dari bejana mempengaruhi homogenitas dari atmosfer jadi
mempengaruhi kecepatan penguapan dari komponen-komponen pelarut dari kertas.
Jika bejana besar digunakan, ada tendensi perambatan lebih lama, seperti
perubahan komposisi pelarut sepanjang kertas, maka koefisien partisi akan
berubah juga. Dua faktor yaitu penguapan dan kompisisi mempengaruhi harga Rf.
4. Kertas,
pengaruh utama kertas pada harga Rf timbul dari perubahan ion dan serapan, yang
berbeda untuk macam-macam kertas. Kertas mempengaruhi kecepatan aliran juga
mempengaruhi kesetimbangan partisi.
5. Sifat
dari campuran, berbagai senyawa mengalami partisi diantara volume-volume yang
sama dari fasa tetap dan bergerak. Mereka hampir selalu mempengaruhi karakteristik
dari kelarutan satu terhadap lainnya hingga terhadap harga Rf mereka.
VII.
KESIMPULAN
Berdasarkan pengamatan yang telah
dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan diantaranya adalah
·
Kromatografi digunakan untuk memisahkan
komponen-komponen zat di dalam bahan yang terikat satu sama lain
·
Kromatografi kertas adalah kromatografi
atau pemisahan komponen-komponen zat dari campuran berdasarkan distribusi
partisi cair-cair.
·
Nilai Rf dapat didefinisikan sebagai
jarak yang ditempuh oleh senyawa dari titik asal dibagi dengan jarak yang
ditempuh oleh pelarut dari titik asal.
·
Nilai Rf rata-rata sampel kunyit adalah
0, sedangkan Rf rata-rata sampel rosella adalah sebesar 0,4236.
·
Nilai Rf rata-rata sampel pewarna
tekstil adalah sebesar 0,6012, sedangkan Rf rata-rata sampel saus tomat adalah
sebesar 0.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim.
2011. Manfaat dan Khasiat Buah Tomat. Available online at: http://adie-ck.blogspot.com/2011/12/manfaat-dan-khasiat-buah-tomat.html (diakses pada tanggal 06 Juni 2012 pukul 21.00 WIB)
Apriyantono, Anton., dkk 1988. Analisis Pangan. PAU Pangan dan Gizi
IPB, Bogor.
Asghari G.A. Mostajeran and
M. Shebli, 2009, Curcuminoid and essential oil components of turmeric at
different stages of growth cultivated in, School of Pharmacy and Pharmaceutical
Sciences, Isfahan University of Medical Sciences, Isfahan, IR.Iran.
Blog Kita, 2009, Google.com_blog kita_rotary evaporator, diakses tanggal 06 April 2011.
Blog Kita, 2009, Google.com_blog kita_rotary evaporator, diakses tanggal 06 April 2011.
Khopkar S.M., 2003, Konsep
Dasar Kimia Analitik, Jakarta: UI-Press.
Sudarmaji,S. 1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian.
PAU Pangan dan Gizi UGM, Yogyakarta.
Winarno, F.G. 1979.
Kimia pangan dan gizi. Penerbit PT. Gramedia,
Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar