Sabtu, 02 Maret 2013

Praktikum Anpang Kadar Air _Yuanita057_


VI. PEMBAHASAN
Air merupakan salah satu unsur penting dalam bahan makanan. Air sendiri meskipun buka merupakan sumber nutrien sseperti bahan makanan lain, namun sangat esensial dalam kelangsungan proses biokimiawi organisme hidup.
Praktikum ini adalah bertujuan untuk mengetahui kadar air dalam suatu sampel. Penetapan kadar air dalam sampel-sampel  tersebut dilakukan dengan menggunakan metode thermogravimetri (cara pengetingan) dan metode destilasi dengan sampel yang berbeda. Penentuan kadar air dengan menggunakan metode thermogravimetri yang mana prinsip dari metode ini dengan menguapkan air yang ada dalam bahan dengan jalan pemanasan. Kemudian menimbang bahan sampai berat konstan yang berarti semua air sudah diuapkan. Bahan-bahan yang mempunyai kadar gula tinggi, pemanasan suhu ± 100oC dapat mengakibatkan terjadinya pergerakan pada permukaan bahan. Selisih berat sebelum dan sesudah pengeringan adalah banyaknya air yang diuapkan (kadar air).
Praktikum kali ini adalah penentuan kadar air dengan metode thermogravimetri digunakan yaitu antara lain buncis, bawang merah, tomat, wortel, dan ketimun. Sampel terlebih dahulu dilakukan pencacahan, dimana fungsi pencacahan ini bermaksud untuk memperluas permukaan agar mudah dalam penguapan.
Tabel 6.1 Hasil Pengamatan Air yang Menguap Metode Thermogravimetri
Kelompok
Sampel
Berat cawan
Berat sampel/w1
Berat sampel setelah 3 jam dipanaskan
Berat sampel setelah 3 jam 30 menit dipanaskan/w2
Air yang menguap/w3
1
Buncis
4,5222 g
1,0721 g
0,0723 g
0,0721 g
1,0000 g
6
Buncis
5,3321 g
1,0355 g
0,0719 g
0,0722 g
0,9636 g
2
Bawang merah
4,3384 g
1,0831 g
0,1720 g
0,1718 g
0,9113 g
7
Bawang merah
4,2410 g
1,1970 g
0,2016 g
0,2010 g
0,9960 g
3
Tomat
4,4974 g
1,0420 g
0,0549 g
0,0545 g
0,9875 g
8
Tomat
5,0705 g
1,0056 g
0,0606 g
0,0602 g
0,9454 g
4
Wortel
3,9349 g
1,0146 g
0,0946 g
0,0949 g
0,9200 g
9
Wortel
4,7732 g
1,0181 g
0,0975 g
0,0979 g
0,9206 g
5
Timun
4,3036 g
1,0954 g
0,0429 g
0,0431 g
1,0525 g
10
Timun
4,4831 g
1,0356 g
0,0461 g
0,0460 g
0,9896 g

Kandungan kadar air suatu bahan dapat ditentukan dengan dua cara, yaitu berdasarkan bahan basah (wet basis) dan berdasarkan bahan kering (dry basis). Kadar air kering (dry basis) adalah jumlah air yang diuapkan per berat bahan setelah pengeringan. Jumlah air yang diuapkan adalah berat bahan sebelum pengeringan dikurangi berat bahan setelah pengeringan. Kadar air kering sering digunakan dalam penelitian untuk mengetahui salah satu faktor dan gangguan yang lain dapat lebih diminimalisir. Sedangkan kadar air basah (wet basis) dinyatakan sebagai jumlah air yang diuapkan per berat bahan sebelum pengeringan. Kadar air basah sering digunakan sebagai informasi deskriptif umum kepada orang.

Perhitungan :  
Ka (wet basis)  
Ka (dry basis) 
TS                   


Tabel 6.2 Hasil Perhitungan Kadar Air Metode Thermogravimetri
Lap.Pend 1
Buncis
Bawang Merah
Tomat
Wortel
Timun
Kelompok
1
2
3
4
5
Ka (wb)
93,27%
84,13%
94,76%
90,67%
96,08%
Ka (db)
1386,96%
530,44%
1811,92%
972,51%
2453,37%
TS
6,75%
15,86%
5,23%
9,32%
3,91%
Lap.Pend 2
Buncis
Bawang Merah
Tomat
Wortel
Timun
Kelompok
6
7
8
9
10
Ka (wb)
93,05%
83,20%
94,01%
90,42%
95,35%
Ka (db)
1340,19%
495,52%
1570,43%
944,20%
2053,01%
TS
6,94%
16,79%
5,98%
9,57%
4,64%

Sifat dari metode analisa kadar air dengan menggunakan metode oven berdasarkan pada thermogravimetri, yaitu berdasarkan pada selisih berat sebelum pemanasan dan setelah pemanasan. Sehingga sebelum dilakukan analisa, terlebih dahulu dilakukan penimbangan cawan yang akan dipergunakan untuk mengeringkan sampel. Suhu yang digunakan dalam metode ini adalah 105oC. Bila suhu yang digunakan terlalu panas makan bahan akan mengalami pengerasan pada permukaan luar namun bagian dalam bahan masih belum matang atau lunak sehingga air dalam bahan masih terangkap didalamnya.
Penimbangan dilakukan sampai berat cawan konstan, yaitu dengan memanaskan cawan dalam oven pada suhu 105oC selama 3 jam, karena cawan yang dipergunakan saat praktikum adalah cawan alumunium dan cawan porselen. Meskipun ukurannya sama, bobot dari setiap tutup cawan belum tentu sama, sehingga untuk menghindari kekeliruan penimbangan maka sebaiknya tutup tidak tertukar.
Setelah cawan selesai dipanaskan dalam oven, kemudian masukan cawan dan tutupnya dalam desikator selama 15 menit, kemudian setelah itu ditimbang. Perlakuan tersebut dilakukan minimal 2 kali, jika berat masih tidak konstan, perlakuan tersebut dilakukan terus-menerus sampai didapatkan berat konstan. Selisih dari penimbangan sebelum dan sesudahnya tidak lebih dari 0,002 g.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada sampel buncis kelompok 1 didapatkan kadar air sebesar 93,27% dan buncis kelompok 6 didapatkan kadar air sebesar 93,05%. Menurut literatur, buncis memiliki kadar air sebesar 89,6%. Pengamatan sampel bawang merah kelompok 2 didapatkan kadar air sebesar 84,13% dan bawang merah kelompok 7 didapatkan kadar air sebesar 83,20%. Menurut literatur, bawang merah memiliki kadar air sebesar 88%. Pengamatan sampel tomat kelompok 3 didapatkan kadar air sebesar 94,76% dan tomat kelompok 8 didapatkan kadar air sebesar 94,01%. Menurut literatur, tomat memiliki kadar air sebesar 94%. Pengamatan sampel wortel kelompok 4 didapatkan kadar air sebesar 90,67% dan wortel kelompok 9 didapatkan kadar air sebesar 90,42%. Menurut literatur, wortel memiliki kadar air sebesar 89,9%. Pengamatan sampel ketimun kelompok 5 didapatkan kadar air sebesar 96,08% dan ketimun kelompok 10 didapatkan kadar air sebesar 95,35%. Menurut literatur, ketimun memiliki kadar air sebesar 97,9%.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengeringan ada 2 golongan, yaitu:
1.      Faktor berhubungan dengan udara pengering dimana semakin tinggi suhu udara maka pengeringan akan semakin cepat, kecepatan aliran udara pengering dimana semakin cepat udara maka pengeringan akan semakin cepat, kelembaban udara dimana semakin lembab udara, proses pengeringan akan semakin lambat, dan arah aliran udara dimana semakin kecil sudut arah udara  terhadap posisi bahan, maka bahan semakin cepat kering.
2.      Faktor berhubungan dengan sifat bahan sampel dimana semakin kecil ukuran benda, pengeringan akan makin cepat, dan semakin sedikit air yang dikandung dalam bahan tersebut maka pengeringan akan makin cepat. Untuk mempercepat penguapan air serta menghindari terjadinya reaksi yang menyebabkan terjadinya air ataupun reaksi yang lain karena pemanasan maka dapat dilakukan pemanasan dengan suhu rendah dan tekanan vakum. Dengan demikian akan dihasilkan  kadar air yang sebenarnya.

Metode Destilasi
Pengamatan penentuan kadar air dengan metode destilasi, sampel yang dipergunakan adalah tepung jagung, tepung ketan, tepung pisang, tepung terigu, dan tepung kacang merah. Analisis yang dilakukan duplo untuk masing-masing sampel. Sampel yang dipergunakan langsung ditimbang di dalam labu didih.
Analisa kadar air dengan menggunakan metode destilasi ini berdasarkan pada pengukuran secara volumetri. Sehingga prosedur pengkonstanan tidak perlu dilakukan. Setelah sampel ditimbang dalam labu didih kemudian sampel ditambahkan pelarut. Pelarut yang ditambahkan ini berfungsi untuk membawa uap air dalam bahan dan berbarengan masuk ke dalam kondensor dan diembunkan dan ditampung dalam tabung penampung. Kondensasi atau pengembunan adalah perubahan wujud benda ke wujud yang lebih padat, seperti gas (atau uap) menjadi cairan. Kondensasi terjadi ketika uap didinginkan menjadi cairan, tetapi dapat juga terjadi bila sebuah uap dikompresi (tekanan ditingkatkan) menjadi cairan, atau mengalami kombinasi dari pendinginan dan kompresi. Cairan yang telah terkondensasi dari uap disebut kondensat. Sebuah alat yang digunakan untuk mengkondensasi uap menjadi cairan disebut kondenser. Kondenser umumnya adalah sebuah pendingin atau penukar panas yang digunakan untuk berbagai tujuan, memiliki rancangan yang bervariasi, dan banyak ukurannya dari yang dapat digenggam sampai yang sangat besar (Guenther 1987). Berat jenis air lebih besar daripada pelarut tersebut, maka air akan berada di bagian bawah pada tabung penampung, tabung penampung yang dipergunakan saat praktikum dilengkapi dengan skala sehingga banyaknya air yang tertampung yang merupakan kadar air dari bahan tersebut dapat langsung diketahui. 
Pelarut yang dapat dipergunakan dalam analisa kadar air dengan metode destilasi ini adalah pelarut dengan titik didih yang lebih tinggi daripada air, dan tidak dapat dicampur dengan air serta mempunyai berat jenis yang lebih rendah daripada air. Pelarut yang memenuhi persyaratan tersebut adalah toluene, xylen, benzene, xylol, dan lain-lain. Pelarut yang dipergunakan dalam praktikum kali ini adalah pelarut toluene sebanyak ± 80 mL. Setelah pelarut dan es balok dmasukan dalam ember berisi air ditambahkan, labu didih kemudian dirangkaikan dengan perangkat destilasi dan penampung uap air yang berskala. Alat yang diguanakan dinamakan Aufhausher sehingga sering disebut metode Aufhausher. Saat praktikum, cara yang dilakukan adalah dengan memasukkan zat kimia, yaitu toluena tersebut kedalam alat destilasi, sedangkan sampel dipanaskan menggunakan heating mantle sampai mendidih dan terlihat jelas batas fase antara air dan zat kimia dimana air akan terletak dibagian bawah pada tabung destilasi dan toluena akan berada di bagian atasnya.Pengkontrolan panas suhu destilator yang berfungsi untuk meredam bumping (letupan) yang mungkin terjadi selama proses pemanasan.
Proses destilasi ini dilakukan selama 1-2 jam, dan dihitung saat larutan mulai mendidih. Pelarut yang digunakan pelarut toluene. Sifat dari pelarut toluene yaitu berupa zat cair yang tidak dapat larut dalam air ,tetapi larut dalam alkohol atau eter. Pelarut toluene dapat dioksidasi dengan oksidator kuat menghasilkan asam benzoat dan mengalami substitusi. Pelarut yang memiliki titik didih diatas air ini akan menguap bersama dengan uap air yang terkandung dalam bahan, uap pelarut dan air akan masuk ke dalam kondensor dan terjadilah proses pengembunan. Embun tersebut akan ditampung dalam penampung berskala yang disebut sterling-bidwell. Karena selisih berat jenis yang cukup besar, pelarut dan air akan terpisah menjadi 2 lapisan yang berbeda. Air yang memiliki berat jenis lebih besar daripada pelarut akan berada di lapisan paling bawah dan toluene akan berada pada lapisan yang paling bawah. Setelah proses destilasi selama 2 jam selesai, maka proses selanjutnya adalah membiarkan peralatan destilasi sampai benar-benar dingin, proses pembacaan skala dilakukan saat peralatan destilasi dingin. Saat suhu tinggi peralatan yang memiliki skala akan mengalami pemuaian dan hasil pengukuran menjadi tidak tepat, sehingga sebaiknya pembacaan skala dilakukan saat peralatan dingin.
Tabel 6.3 Hasil pengamatan kadar air dengan metode destilasi
Kelompok
Sampel
Berat sampel
Volume yang tertampung
Kadar air
1
Tepung jagung
10,0200 g
0,3 ml
3 %
6
Tepung jagung
10,0300 g
0,4 ml
3,99 %
2
Tepung ketan
10,0137 g
1,4 ml
13,98 %
7
Tepung ketan
10,0500 g
1,4 ml
13,93 %
3
Tepung pisang
10,0800 g
1,5 ml
14,9 %
8
Tepung pisang
9,9961 g
1,3 ml
13 %
4
Tepung terigu
10,0060 g
1,3 ml
12,99 %
9
Tepung terigu
10,0494 g
1,1 ml
10,95 %
5
Tepung kacang merah
10,0070 g
0,8 ml
7,99 %
10
Tepung kacang merah
10,0027 g
0,95 ml
9,5 %

Berdasarkan hasil praktikum dan perhitungan dengan menggunakan rumus 
% kadar air =
 
Maka dapat diketahui bahwa kadar air dalam sampel tepung jagung kelompok 1 dan kelompok 6 secara berturut-turut adalah 3% dan 3,99%. Untuk hasil pengukuran yang pertama dan kedua volume air yang tertampung  secara berurutan adalah 0,3 mL dan 0,4mL, sehingga nilai tersebut yang dipergunakan baik dalam data maupun perhitungan. Menurut literatur, tepung jagung memiliki kadar air sebesar 12%.
Sedangkan untuk sample tepung ketan kelompok 2 dan kelompok 7 secara berurutan adalah 13,98% dan 13,93%. Pengamatan sampel tepung pisang kelompok 3 dan kelompok 8 secara berurutan adalah 14,9% dan 13%. Pengamatan sampel tepung terigu kelompok 4 dan kelompok 9 secara berurutan adalah 12,99% dan 10,95%. Menurut literatur, tepung terigu memiliki kadar air sebesar 11,8%. Pengamatan sampel tepung kacang merah kelompok 5 dan kelompok 10 secara berurutan adalah 7,99% dan 9,5%.
Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa analisa kadar air dengan menggunakan metode destilasi juga sangat sesuai untuk bahan-bahan yang mengandung kadar air cukup kecil. Metode destilasi ini cocok untuk menganalisis kadar air untuk bahan kadar air yang tinggi.















VII. KESIMPULAN
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik beberapa simpulan diantaranya adalah
Ø  Prinsip dari metode thermogravimetri adalah  bahwa air yang terkandung dalam suatu bahan akan menguap bila bahan tersebut dipanaskan pada suhu 105o C selama waktu tertentu. Perbedaan antara berat sebelum dan sesudah dipanaskan adalah kadar air
Ø  Kadar air untuk sampel buncis kelompok 1 dan kelompok 6 secara beurutan adalah 93,27% dan 93,05%.
Ø  Kadar air sampel bawang merah kelompok 2 dan kelompok 7 secara beurutan adalah 84,13% dan 83,20%.
Ø  Kadar air sampel tomat kelompok 3 dan kelompok 8 secara beurutan adalah 94,76% dan 94,01%.
Ø  Kadar air sampel wortel kelompok 4 dan kelompok 9 secara beurutan adalah 90,67% dan 90,42%.
Ø  Kadar air sampel ketimun kelompok 5 dan kelompok 10 secara beurutan adalah 96,08% dan 95,35%.
Ø  Penentuan kadar air metode thermogravimetri, kadar air paling besar adalah kadar air ketimun, dan kadar air paling kecil adalah kadar air bawang merah.
Ø Prinsip dari metode destilasi adalah menguapkan air dengan pembawa cairan kimia yang mempunyai titik didih lebih tinggi daripada air dan mempunyai berat jenis lebih rendah daripada air, sehingga antara air dan cairan kimia itu tidak akan bercampur.
Ø Bahan yang telah mengalami pengeringan lebih bersifat higroskopis daripada bahan asalnya.
Ø Kadar air sampel tepung jagung kelompok 1 dan kelompok 6 secara berturut-turut adalah 3% dan 3,99%.
Ø Kadar air sample tepung ketan kelompok 2 dan kelompok 7 secara berurutan adalah 13,98% dan 13,93%.
Ø Kadar air sampel tepung pisang kelompok 3 dan kelompok 8 secara berurutan adalah 14,9% dan 13%.
Ø Kadar air sampel tepung terigu kelompok 4 dan kelompok 9 secara berurutan adalah 12,99% dan 10,95%.
Ø Kadar air sampel tepung kacang merah kelompok 5 dan kelompok 10 secara berurutan adalah 7,99% dan 9,5%.
Ø Penentuan kadar air metode destilasi didapatkan kadar air paling besar dimiliki oleh kadar air tepung pisang, dan kadar air paling kecil adalah kadar air tepung jagung.

























DAFTAR PUSTAKA

Fardiaz, Srikandi, FG. Winarno, dan Dedi Fardiaz. 1980. Pengantar Teknologi Pangan. Jakarta : Gramedia

Guenther E. 1987. Minyak Atsiri Jilid 1. Terjemahan: S. Keteren. Jakarta: UI Pr.

Sudarmadji, Slamet, Suhardi dan Bambang Haryono. 1989. Analisis Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta : Liberti Yogyakarta

Sukarti, Tati. 2012. Bahan Ajar Praktikum Analisa Pangan. Jatinangor: FTIP UNPAD.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar